Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

3 Contoh Pidato di Hari Raya Qurban (Idul Adha)

Asalamualaikum Wr Wb.
Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan kumpulan Pidato untuk Hari Raya Qurban (Idul Adha), Tidak terasa bahwa tinggal beberapa hari lagi kita semua Ummat Muslaim akan mengadakan Hari raya setelah Idul Fitri Yaitu Idul Adha, mudah-mudahan pandemi covid-19 ini cepat hilang dan kita semua khusyu dalam beribadah, Aamiin

Di bawah ini adalah 3 Pidato yang berhasil anibarstudio.com rangkum dari beberapa artikel yang ada di google, mudah-mudahan bermanfaat.

3 Contoh Pidato di Hari Raya Qurban (Idul Adha)



1. HAKIKAT MELAKSANAKAN IBADAH QURBAN

Assalamu’alaikum Wr Wb
Saudara, hadirin dan hadirat yang dimuliakan oleh Allah.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, marilah terlebih dahulu kita panjatkan puji syukur yang sedalam-dalamnya kepada Allah swt. yang senantiasa memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya, sehingga pada saat ini kita dapat berkumpul bersama-sama dalam suasana hari raya kurban. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa ibadah haji dan kurban adalah berakar dari sejarah Nabi Ibrahim beserta istrinya, Siti Hajar dan putranya Ismail a.s. Betapa besar ketakwaan dan ketaatan beliau dalam memenuhi perintahAllah swt. maka dengan rela anak, istri beliau tinggalkan di lembah yang tandus, begitupula Siti Hajar rela ditinggalkan suaininya tanpá bekal dan kawan karena taat kepada suami dan taat kepada Allah swt.

Sungguh besar kekuasaan Allah yang mempunyai sifat rahman dan rahim, di tengah-tengah ketandusan padang pasir tersebut,Siti Hajar tak tahu bagaimana harus mendapatkan sumber air untuk membasuhi kerongkongan dirinya dan juga putranya dari kehausan yang hebat. Kecuali nikmat Allah swt. sehingga kaki Ismail yang meronta-ronta menjejak di tanah padang pasir yang kering kerontang itu menimbulkan sumber air penuh keajaiban, yang kemudian kita kenal sebagai sumber air zam-zam, sampai sekarang ini tiada kering sepanjang masa atas kehendak Allah Yang Maha Kuasa.

Saudara, hadirin dan hadist yang saya muliakan.
Kepatuhan dan pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. beserta keluarganya yang begitu besar itu dapat kita simak pula pada waktu beliau mendapat perintah untuk menyembelih putra tercinta satu-satunya Ismail a.s. Sebagaimana dijelaskan dalam Surat Asshafat ayat 100-108 yang artinya:

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar genthira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak iu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu. Ia menjawab: Hal bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya) (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telahmembenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami membeni balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian." (QS. Ash-Shaffat: 100-108)."

Ketaatan, kepasrahan dan keikhlasan Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan putranya Ismail a.s.untuk berkorban dan berbakti kepada Allah swt. sungguh merupakan perpaduan yang indah dan patut diteladani bagi umat manusia sepanjang zaman, dulu, sekarang dan masa yang akan datang, baik dalam fungsi kita sebagai ayah, ibu, maupun anak. sehingga dari pribadi masing-masing selalu memancarkan cahaya kebenaran untuk melakukan perbuatan-perbuatan terpuji baik bagi diri dan keluarganya maupun bagi masyarakat.

Saudara, hadirin dan hadirat yang saya hormati.
Ibadah Kurban bukanlah sekedar penyembelihan hewan kurban tanpa nilai rohani, Al-Qur'an mengaitkankurban dengan penyebutan Asma Allah Yang Maha Kuasa dan dengan kemantapan iman serta penuh kepasrahan dan ketabahan dalam menghadapi musibah.

Allah SWT Berfirman yang artinya:
"Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirirkikan Allah kepada kepada mereka, maka Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)." (QS. Al-Hajj: 34)."

Dan dengan jelas pula Allah berfirman bahwa bukanlah daging atau darah kurban itu yang sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan yaitu kesediaan, ketaatan dan kesetiaan serta keikhlasan memenuhi perintah Allah itulah yang akan sampai kehadirat-Nya.
Allah SWT Berfirman yang artinya:

"Daging-daging unta dan darahnya itu, sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan daripada kamulah yang dapat mencapainya." (QS. A1-Hajj: 37)."

Saudara, hadirin dan hadirat yang saya hormati.
Dari ayat-ayat tersebut kiranya dapatlah kita paham bahwa ibadah kurban itu merupakan wasilah, cara atau jalan untuk mencapai ketakwaan kepada Allah swt. Sedangkan penyembelihan kurban itu, seolah-olah merupakan tindakan simbolis, bagaimana kita harus menundukkan dan menguasai serta mengendalikan kecenderungan-kecenderungan hewani yang bersemayam di dalam diri setiap manusia, yang dikenal dengan nafsu bahimiyah, nafsu sabu'iyah, nafsu lawwamah dan lain-lain. Nafsu-nafsu tersebut selalu menggejala dalam bentuk keinginan-keinginan yang rendah, yang selalu mendorong dan menarik manusia untuk melakukan kerusakan, kejahatan, kekejihan.

Nafsu bahimiyah, mencerminkan watak-watak binatang ternak, yang selalu ingin hidup enak sendiri, hidupnya hanya untuk memenuhi kebutuhan lahiriyah saja tanpa memikirkan dan mau melakukan berjuang di jalan Allah dan tidak pula bagaimana supaya masyarakat menjadi baik. Sementara nafsu sabu'iyah, mencerminkan watak binatang buas, mencerminkan keinginan untuk hidup berkuasa sendiri, menang sendiri dan lain sebagainya. Usaha untukmenguasai dan mengendalikan nafsu-nafsu tersebut merupakan suatu hal yang sangat asasi dalam rangka membangun kehidupan yang manusiawi danjustru karena itulah usaha tersebut merupakan jihad akbar.

Ketidak mampuan manusia menundukkan, menguasai dan mengendalikan kecenderungan-kecenderungan hewani atau nafsu bahimiyah, sabu'iyah dan lawwamah tersebut sangat membahayakan dirinya sendiri dan juga bagi kehidupan masyarakat. Dalam realita, kehidupan sering kita saksikan, bahwa kekacauan dan kerancauan, penyimpangan dan Penyelewengan, kekejian dan kejahatan, korupsi dan manipulasi yang terjadi dan bermunculan dalam kehidupan manusia adalah bersumber dan ketjdak mampuan manusia untuk menundukkan, menguasai dan mengendalikan nafsu bahimiya,nafsu subui'yah dan nafsu lawwamah yang ada di dalam dirinya:

Saudara, hadirin dan hadirat sekalian yang berbàhagia.
Sesungguhnya keselamatan manusia baik sebagi individu maupun warga masyarakat sungguh sangat bergantung pada mampu tidaknya manusia menguasai dan mengendali nafsu-nafsu tersebut. Keberanian mengorbankan kepentingan individu atau pribadi dengan kepentingan kesejahteraan dan kemaslahaan bersama hendaklah dapat kita petik sebagai hikmah dalam hari Raya Kurban ini.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan yang berbahagia ini, terima kasih atas segala perhatiannya mohon maaf atas kesalahan dan kekhilafannya, akhirnya,
Hadanallahu waiyyakum ajma’in wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sumber : http://kata-kata13.blogspot.com



2. PENGAPLIKASIAN DARI IBADAH QURBAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Assalamu’alaikum Wr Wb.
Bapak-bapak, ibu-ibu serta saudara-saudara kaum muslimin dan muslimat yang kami cintai.
Dengan mengucapkan puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, bahwa pada hari ini kita dapat berkumpul bersama di tempat yang luas ini dalam rangka merayakan Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Qurban. Sebagai umat Islam, saya benar-benar bangga karena partisipasi para hadirin sekalian untuk ikut serta memperingati Hari Raya Idul Adha dari tahun ke tahun semakin menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Hal ini cukup sebagai bukti bahwa keimanan dan kesadaran para hadirin sekalian semakin meningkat, hal ini tentu juga sebagai bukti bahwa betapa tebal dan kuatnya iman saudara-saudara sekalian kepada Allah SWT.

Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudarakaum muslimin dan muslimat yang kami cintai.
Kita dapat memaklumi bersama bahwa Hari Raya Qurban atau Hari Raya Idul Adha adalah sebuah hari dimana kita memperingati peristiwa penyembelihan Nabi Ismail AS. putra Nabi Ibrahim AS. dalam rangka menguji sampai dimana ukuran ketaqwaan Nabi Ibrahim as. kepada Tuhannya. Atas kehendak Tuhan juga Nabi Ibrahim menyembelih putranya Nabi Ismail, yang kemudian atas kekuasaan-Nya Nabi Ismail diganti dengan seekor domba. Dari kisah tersebut kita dapat mengambil sebuah hikmah yang baik, bahwa setiap manusia hendaklah rela berkorban, baik dengan harta benda, jiwa raganya bila diperlukan, baik ituuntuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara, dan khususnya bagi agama kita.
Yang menjadi pertanyaan disini hanyalah, apakah kita sudah mengukur kadar rasa pengorbanan pada diri kita masing-masing? Apakah kita sudah siap kehilangan harta dan tenaga kita jika ada seseorang yang memerlukan pertolongan kita? Apakah kita sudah siap untuk berkorban apabila bangsa kita membutuhkan? Dan apakah kita siap untuk kehilangan harta dan tenaga apabila agama kita membutuhkan? Tentu jawaban semua pertanyaan tersebuthanya terletak di dalam hati masing-masing. Tetapi, apa yang kita lakukan dengan berkorban menyembelih binatang ternak ini adalah salah satu wujud perbuatan amal dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
Jika kita mau melihat secara nyata dalam kehidupan masyarakat, masih banyak saudara-saudara kita yang tidak mampu membeli daging untuk dikonsumsi karena harganya yang relatif mahal. Dan dengan melakukan qurban ini, kita mencoba berhagi dengan saudara-saudara kita tersebut agar mereka juga dapat merasakan ke-nikmatan daging tersebut seperti yang telah kitarasakan. Dan tentu saja ha! itu adalah sebuahamal perbuatan baik yang akan mendapatkanimbalannya di akhirai kelak.

Para hadirin yang terhormat.
Sebenarnya berkorban dengan seekor domba atau binatang ternak saja yang harus kita teladani. Tetapi kita harus mampu mengambil hikmah dari Hari Raya Qurban ini, bukan sifat rela berkorban saja yang harus kita teladani, tetapi sifat ketaqwaan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismai'l as. yang harus teladani. Karena nilai kerena ketaqwaan baliau kepada Allah SWT. yang begitu tinggi sehingga beliau rela mengurbankan harta yang paling berharga dalam kehidupan beliau untuk disembelih sebagai qurban, yaitu Nabi Ismail as.

Demikian halnya tentang masalah qurban ini, kita tidak hanya dituntut untuk berqurban hanya pada Hari Raya Idul Adha saja, tetapi dalam kehidupan keseharian kita juga harus Selalu melakukannya, jika kita mampu dan ada yang membutuhkan. Jadi dengan peringatan Hari Raya Idul Adha ini, mari kita tingkatkan nilai keimanan dan ketaqwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, jalankan semua perintah Allah SWT dengan keimanan dan keikhlasan serta tinggalkan jauh-jauh segala yang menjadi larangan-Nya. Inya Allah amal baik saudara diterima oleh Alla SWT.

Juga tidak lupa kami sampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan batuan, baik tenaga, moril maupun spirituil demi terselenggaranya perayaan ini. Akhirul kalam.

Wassalamu’ala.ikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Sumber : http://kata-kata13.blogspot.com


3. BERUPAYA UNTUK MELAKSANAKAN IBADAH QURBAN

Assalamu’alaikum Wr Wb.
Pertama-tama, marilah kita panjatkan rasa puji syukur kehadirat Allah S.W.T. yang mana dengan segala rahmat dan nikmat-Nya kita masih diberikan umur panjang sehingga pada kesempatan ini alhamdulillah dapat dipertemukan lagi dengan hari kemenangan ummat Islam, yakni hari raya Idul Adha. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Amien

Bapak/Ibu dan para hadirin yang saya hormati...
Dengan datangnya hari raya Idul Adha kali ini, semoga Allah SWT memberikan kita semua hidayah untuk lebih bisa mendekatkan diri kepada-Nya selaku Tuhan semua alam. Mari kita tingkatkan rasa taqwa kita kepada Allah SWT agar kelak kita diberikan keselamatan di Akhirat.

Di hari raya Idul Ahda , para ummat Muslim yang dari sisi ekonomi memiliki kemampuan amat diserukan kepada mereka untuk melakukan qurban. Qurban yang berasal dari bahasa Arab yang berartikan penyembelihan memiliki nilai bersejarah dalam Islam, dan masyarakat Islam melakukan qurban setiap setahun sekali.

Allah SWT berfirman yang artinya:
" Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah (QS. Al-Kautsar : 2) "

Note: Yang dimaksud berkorban di sini ialah menyembelih hewan Qurban dan mensyukuri nikmat Allah.

Dalam sebuah hadist diriwayatkan, bahwasanya Rasulullah bersabda: "Barang siapa mempunyai kelapangan (kejembaran rezeki), mampu untuk berkorban tetapi tidak melakukannya, maka janganlah dia dekat-dekat ke Mushollah tempat kami beribadat". (HR.Ibnu Majah).

Hadirin Rahimakumullah ...
Binatang korban yang disembelih dengan hati yang ikhlas itu kelak di hari akhir akan ditimbang darahnya, tanduknya, bulunya dan semua anggota tubuhnya, sekaligus akan menjadi saksi baginya.

Rasulullah saw bersabda yang artinya:

" Sembelihlah korban dan senangkanlah hatimu, sesungguhnya seorang muslim yang menghadapkan hewan-hewan sembelihnya ke kiblat, maka darah hewan itu, tanduknya dan bulunya semuanya merupakan kebajikan yang akan ditimbang pada hari kiamat. "

Hadirin Rahimakumullah ...
Menyembelih binatang korban itu mengandung dua aspek perwujudan, yaitu:

  • Aspek uhudiah (Peribadatan)

Yaitu berbakti dan mendekatkan diri kepada Tuhan, sesuai dengan asal kata korban itu berasal dari kata "Qoroba" yang artinya mendekatkan diri kepada Allah. Sebagai imbangan pendekatan itu, maka Allah dekat pula kepada orang yang berkorban, dan Tuhan akan melipatgandakan pahalanya di akhirat kelak.

  • Aspek kemasyarkatan

Karena dengan melakukan korban dan membagi-bagikan daging sembelihan itu akan berkembanglah pendekatan sesama umat manusia. Dimana kaum muslimin yang sedang hidup dalam garis kemiskinan yang selama hidupnya tidak pernah makan daging sapi, kini dia merasakan bagaimana nikmatnya makan daging ikan sapi. Dengan jalan ini insya Allah akan terciptalah kemurnian sosial dalam masyarakat.

Bapak/Ibu dan para hadirin yang saya hormati...
Dalam sejarah Islam sebagaimana diterangkan dalam Al Qur'an, terdapat dua peristiwa dilakukannya ritual kurban yaitu oleh Habil (Abel) dan Qabil (Cain), putra nabi Adam Alaihis Salam serta pada saat Nabi Ibrahim akan mengorbankan Nabi Ismail atas perintah Allah S.W.T.

Kisah Habil dan Qabil di kisahkan pada Al Qur'an Surat Al-Maaidah ayat 27 yang artinya:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (QS. Al-Maaidah : 27)

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail
Diterangkan dalam Al Qur'an, Allah memberi perintah melalui mimpi kepada Nabi Ibrahim untuk mempersembahkan Ismail. Diceritakan dalam Al Qur'an bahwa Ibrahim dan Ismail mematuhi perintah tersebut dan tepat saat Ismail akan disembelih, Allah kemudian menggantinya dengan seekor domba.

Dibawah ini petikan Surat Ash Ahaaffaat Ayat 102-107 yang menceritakan hal tersebut.
 Allah SWT berfirman yang artinya :

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ), dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar". (QS. Ash-Shaaffaat: 102-107)

Hadirin Rahimakumullah ...
Maka dari itu, apabila kita diberikan rizki lebih oleh Allah S.W.T. jangan lupa disisihkan untuk membeli hewan untuk disembelih pada hari raya Idul Adha. Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga pidato singkat ini berguna bagi para hadirin sekalian, dan bermanfaat bagi saya pribadi, Amin.
Sumber : https://www.blogkhususdoa.com/2015/08/ceramah-pidato-idul-adha-hari-raya-qurban-singkah-penuh-makna.html


KESIMPULAN

Ini adalah kumpulan Pidato yang anibarstudio.com dapatkan, silahkan digunakan untuk kepentingan berpidato.

Mungkin cukup sekian pembahasan saya tentang 3 Contoh Pidato di Hari Raya Qurban (Idul Adha), semoga apa yang saya tulis bisa bermanfaat.


Sumber :
  • https://www.blogkhususdoa.com
  • http://kata-kata13.blogspot.com


Pudin S Ilham
Pudin S Ilham Hanya seorang penulis amatiran yang sedang berusaha menjadi lebih baik

Post a Comment for "3 Contoh Pidato di Hari Raya Qurban (Idul Adha)"